- Satgas Damai Cartenz Tangkap NB Terkait Penembakan di Papua Pegunungan Yahukimo
- Gubernur Papua Selatan Lakukan Kunjungan ke PT. BIA Provinsi Papua Selatan
- Polisi Tangkap Tiga Terduga Pelaku Curas di Jalan Noari Merauke
- UPACARA PEMBINAAN TRADISI PERWIRA DAN BINTARA POLRI TAHUN 2026 POLRES MERAUKE, TANAMKAN SOLIDARITAS
- Penuh rasa Sukacita dan syukur ditengah Hari Ulang Tahun Tahbisan Episkopal yang ke - 32 Tahun 2026
- SATGAS KEPOLISIAN OPERASI DAMAI CARTENZ KEMBANGKAN PENANGKAPAN YN, AMANKAN SEJUMLAH BARANG BUKTI DI
- RESPONS CEPAT SATGAS KEPOLISIAN OPERASI DAMAI CARTENZ, POLRES JAYAWIJAYA DAN KOOPS TNI HABEMA TANGAN
- Diduga 11 Tahun Membohongi Orang Papua, PT Tunas Sawa Erma Digugat di Pengadilan Merauke
- GPI Menolak PSN di Tanah Papua hingga Kecam Militerisme dan Otoritarianisme
- Sepakat! Setiap anggota Polres Merauke Sumbang Beras Kepada Korban Banjir Rob
Nyanyikan Anti Putin, Personel Pussy Riot Dibui

Keterangan Gambar : Pussy Riot
Rusia - Pengadilan Rusia memvonis penjara dua tahun personel band Pussy Riot karena menyanyikan lagu anti Presiden Vladimir Putin.
Pengadilan menetapkan tiga anggota band itu bersalah melakukan 'hooliganisme' dengan motivasi agama.
Hakim Marina Syrova mengatakan para anggota band "secara berhati-hati merencanakan" nyanyian mereka tanggal 21 Februari lalu di dalam katedral di Moskow. "Tolokonnikova, Alyokhina dan Samutsevich melakukan "hooliganisme" -- dengan kata lain pelanggaran berat ketertiban umum," kata Syrova.
"Pengadilan menyatakan mereka bersalah. Pengadilan meraih putusan berdasarkan kesaksian terdakwa sendiri dan bukti lain," tambahnya.
Jaksa menuntut hukuman tiga tahun penjara atas tiga anggota band itu.
Para pendukung band itu melakukan protes di sejumlah tempat di Moskow. Keamanan ketat pun diterapkan dan sejumlah jalan ditutup.
Pussy Riot mengecam kasus tersebut yang mereka katakan diorganisir Putin.
Buat Marah Gereja
Sejumah selebriti termasuk bintang pop Amerika, Madonna, menyerukan agar mereka dibebaskan.
Ketiga anggota band itu mengatakan "doa punk" mereka adalah tindak politik untuk memprotes gereja ortodoks Rusia yang mendukung Presiden Putin.
Dalam penampilan seronok mereka di dekat altar mereka meminta Bunda Maria untuk "menggeser Putin".
Nyanyian mereka membuat marah gereja Ortodoks dan ketua gereka Kirill menyebutkan penampilan itu sama saja dengan penghujatan agama. Namun sejumlah warga Rusia menganggap kasus itu sebagai upaya pemerintah membungkam kritikan.










